Tuesday, December 18, 2007

Pandhapa Juglo

1
Pengenalan dan pemahaman atas arsitektur Jawa telah bertumbuh-kembang dengan semakin meluas dan mendalam. Berkat penelitian dan studi terhadap arsitektur Jawa, kini telah dapat diketahui mana sajakah pengetahuan arsitektur Jawa yang bersumber pada sumber-sumber asli Jawa dan mana pula yang bersumber dari pengamatan empirik lapangan. Apabila dalam pengetahuan yang bersumber pada pengamatan lapangan dikatakan adanya muatan mistik dan kepercayaan yang terkadang tidak mudah diterima oleh nalar; tidak demikian halnya dengan yang bersumber pada sumber-sumber asli Jawa. Serat Centhini, Kawruh Griya dan Kawruh Kalang adalah contoh dari sumber asli Jawa yang dapat dikemukakan di sini. Melalui sumber-sumber tadi dapat diketahui bahwa arsitektur Jawa yang berada di pedalaman (bukan yang pesisiran) banyak berhutang pada arsitektur Jawa yang di Ponorogo. Dikatakan dalam Serat Centhini bahwa di Ponorogo dihimpun ketentuan-ketentuan merancang arsitektur Jawa. Di lingkungan para tukang dan ahli bangunan tradisional di Surakarta, hingga awal tahun 2000 masih berlaku ‘corak Ponoragan’ sebagai corak arsitektur Jawa yang dianggap lebih tua dan lebih baku. Menyadari bahwa pengenalan dan pemahaman yang bersumber dari sumber-sumber asli Jawa ini belum banyak dikenalkan dan dimasyarakatkan, dalam kesempatan ini hal-ihwal Pandhapa Juglo akan disampaikan dengan menggunakan sumber-sumber asli Jawa tersebut.

2
Pandhapa, yang dalam masa kini banyak disebut ‘pendapa’, merupakan salah satu bangunan dengan penggunaan atau peruntukan yang tertentu, yakni penggunaan atau peruntukan yang mengandung nilai-nilai sosial-kemasyarakatan tertentum dan oleh karena itu Pandhapa ini menunjuk pada bangunan yang cenderung bersifat publik. Sementara itu, Juglo, yang dalam masakini banyak dikatakan sebagai “Joglo’, adalah sebutan bagi salah satu dhapur, tipe/sosok bangunan, atau lazim dikenal dengan tipe bentuk bangunan. Dengan demikian, sebuah Pandhapa Juglo adalah sebuah bangunan dengan penggunaan atau peruntukan yang tertentu serta memiliki bentuk bangunan yang juga tertentu.

3
Pandhapa menjadi salah satu guna dari arsitektur Jawa. Guna yang lain misalnya adalah griya-wingking (tempat berhuni), pringgitan, gandhok, regol dan yang lainnya. Di sini, guna merupakan pendayagunaan dari bangunan yang didirikan sehingga manusia dapat melakukan berbagai kegiatan di sana. Dari naskah-naskah kuno diketahui bahwa pendayagunaan bangunan ditentukan oleh luasan atap bangunan. Sebagaimana diketahui, dalam arsitektur Jawa, atap bangunan menjadi bagian bangunan yang menyandang sejumlah peran atau fungsi dan salah satu dari peran itu adalah menaungi, menjadi penaung. Dalam iklim tropis yang tidak mengenal musim dingin yang membekukan, terik matahari dan derasnya curah hujan menjadi faktor utama yang mempengaruhi kegiatan atau aktivitas manusia. agar kegiatan tidak terhambat oleh terik matahari atau derasnya hujan, dibangunlah naungan atau teduhan, dibuatlah tempat bernaung dan berteduh. Dengan pemikiran dasar seperti ini, maka luas dan sempitnya atap bangunan dapat digunakan sebagai indikator bagi macam kegiatan yang berlangsung di bawah naungan atau teduhan tadi. Ini berarti bahwa semakin luas bidang atapnya, akan semakin luas pula area bernaung atau berteduhnya; dan dengan demikian semakin beraneka kegiatan yang dapat diselenggarakan. di samping itu, semakin luas atap penaung atau peneduh ini, akan semakin banyak pula manusia yang dapat melakukan kegiatan di bawah naungan atap tadi. oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila luas atau sempitnya atap bangunan mengindikasikan besar-kecilnya daya tampung pernaungan atau perteduhan tadi.
Pandhapa disebut pula sebagai griya-ngajeng, bangunan-depan. sebagai sebuah griya-ngajeng seharusnya pandhapa dilengkapi dengan griya-wingking, bangunan-belakang. Dalam konfigurasi dari griya-ngajeng dan griya-wingking, kegiatan yang terselenggara lalu memiliki tingkatan yang berbeda. Griya-ngajeng yang berada di depan griya-wingking lalu menjadi bangunan yang digunakan untuk menjadi tempat bertemunya penghuni dengan para tamu yang berkunjung. Sudah barang tentu, semakin banyak jumlah tamu yang berkunjung akan semakin luas pula atap penaungnya. Oleh karena itu tidak mengherankan bila terkadang dijumpai griya-ngajeng yang lebih besar daripada griya-wingking. Selanjutnya, sebagai tempat bertemunya penghuni dengan tamu, orang luar, griya-ngajeng ini lalu menjadi gugus bangunan yang mengakomodasi kegiatan yang bersifat lebih publik (dibandingkan dengan griya-wingking). dengan demikian, griya-ngajeng ini merupakan pula gugus bangunan yang memiliki nilai sosial-kemasyarakatan yang cenderung tinggi. Muatan nilai itu pula yang memungkinkan griya-ngajeng untuk menjadi tempat rapat, pertemuan, perhelatan (resepsi) maupun tempat apresiasi kebudayaan. dalam penggunaan-penggunaan seperti itulah sebutan griya-ngajeng lalu berganti dengan sebutan pandhapa.

4
Peran lain dari atap adalah bagaikan penutup kepala yang dikenakan oleh orang Jawa. Sebagaimana diketahui, ada bermacam-macam penutup kepala yang dipunyai orang Jawa seperti blangkon atau udheng, caping, capil, kopiah, sorban dan sebagainya. masing-masing penutup kepala itu dipakai untuk keperluan atau kegiatan yang tertentu. Misalnya saja, blangkon tidak dikenakan untuk melakukan pekerjaan menggarap sawah, dan caping tidak digunakan untuk menghadap Lurah atau Bupati. Dalam arsitektur Jawa, peran atap yang bagaikan penutup kepala ini diakomodasi dengan menyuguhkan lima dhapur-griya, tipe/sosok bangunan, yaitu dhapur tajug, juglo, limansap, kapung dan dhapur panggang-pe. Perlu dikemukakan di sini bahwa dhapur/tipe ini menunjuk pada keseluruhan sosok bangunan, bukan hanya pada atap bangunannya. Telah menjadi kelaziman bila dhapur tajug ini kebanyakan dipakai pada bangunan-bangunan yang cenderung sakral; sedang dhapur kapung dan panggang-pe dipakai bagi bangunan-bangunan utilitarian. Sekali lagi itu adalah kebiasaan atau kelaziman belaka, bukan rumus atau aturan (kepastian seperti itu dapat dibuktikan dengan menunjuk sumber-sumber asli Jawa). Ini berarti bahwa antara bentuk bangunan (dhapur griya) dengan guna bangunan (guna-griya) tidak terdapat hubungan saling mengikat. Sebuah masjid dapat saja dan boleh saja memiliki bantuk bangunan berupa dhapur tajug ataupun dhapur kapung.
Sementara itu, pada setiap dhapur/tipe, ada dua pilihan corak bangunan yakni corak jaler atau enem, dan corak estri atau sepuh. Apabila tampilan bangunan secara keseluruhan cenderung menegak atau meninggi (vertikal), tampilan ini dikatakan jaler atau enem. Sebaliknya, bila cenderung mendatar atau melebar (horisontal), tampilan seperti ini dikatakan estri atau sepuh. Dengan pilihan corak ini, sebuah bentukan dapat dikatakan sebagai bentukan yang tergolong juglo enem atau sebagai juglo estri; ataukah tergolong ke dlam limansap jaler atau limansap sepuh. Adanya pilihan corak ini mengindikasikan bahwa dalam merancang arsitektur Jawa dituntut adanya kepekaan akan proporsi dan komposisi.

5
Apakah arsitektur Jawa harus memiliki ornamentasi atau dekorasi yang terkadang hadir secara melimpah pada bangunan? Sumber-sumber asli Jawa tidak mengharuskan bangunan memiliki ornamen atau dekorasi. Hadirnya ornamen dan dekorasi itu sepenuhnya diserahkan pada pemilik bangunan. Jikalau pemilik bangunan berhasrat untuk mempercantik atau memperindah bangunannya, mengingat pemilik memang memiliki kecintaan dan apresiasi yang tinggi terhadap seni bangunan, maka ornamentasi dan dekorasi dapat dia hadirkan pada bangunan. Disadari sepenuhnya bahwa ornamentasi dan dekorasi pada bangunan adalah sebuah tambahan biaya yang harus dikeluarkan dalam membangun, dan oleh karena itu kehadiran dari ornamen dan dekorasi itu banyak dikendalikan oleh ketersediaan biaya. Di sini pula muncul anggapan bahwa penghadiran ornamen atau dekorasi itu dapat dipakai sebagai indikasi bagi tingkat kekayaan atau status seseorang. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah; sebab, hadirnya ornamen atau dekorasi itu adalah sebagai pernyataan atau sikap mengapresiasi keindahan karya cipta. Oleh karena itu, apabila bangunan yang dibuat ternyata tidak memakai ornamen atau dekorasi, hadirnya sebuah bangunan yang indah dan mempesona adalah kewajiban.

6Di depan telah dikatakan bahwa Pandhapa Juglo adalah sebutan bagi bangunandengan penggunaan atau peruntukan yang tertentu, serta memiliki bentuk bangunan yang tertentu. Pada masakini banyak yang beranggapan bahwa bangunan Pandhapa harus memiliki bentuk bangunan Juglo. Dengan menggunakan sumber-sumber asli Jawa dapat diketahui bahwa anggapan itu tidak benar. Jadi, sebuah pandhapa tidak harus mempunyai bentuk juglo; dan sebaliknya, bentuk juglo tidak harus digunakan hanya untuk pandhapa. Dari sumber-sumber tadi diyakini bahwa sebuah Pandhapa boleh saja tidak berbentuk juglo. Dari sini lalu dapat diyakini bahwa sebuah pandhapa yang memiliki bentuk juglo adalah sebuah ketetapan yang dibuat oleh pemilik atau perancang bahwa bentuk yang dipakai adalah bentuk juglo. Mengapa memakai bentuk Juglo, ini adalah karena memang bentuk juglo ini merupakan salah satu ciri bentuk dari arsitektur Jawa. Oleh karena itu, sebuah Pandhapa Juglo lalu merupakan pandhapa yang menampakkan bentukan yang berciri arsitektural Jawa.

How Low(cal) Can You Go?

0
ditempatkan menjadi guru bukan sebuah tindakan yang benar kalau dia lalu menjadi sosok yang di guGU dan ditiRU (yang dipercaya dan diturut), melainkan menjadi sosok yang menjadikan orang lain memiliki kebijaksanaan yang melebihi dirinya. Alih-alih segalanya disampaikan dengan langsung dan jelas bagaikan gambar Kumbakarna atau Sukasrana, adalah keping-kepinig mosaik yang akan disampaikan oleh “guru”, dan dipersilakan pada muridnya untuk membangun gambar dari keping-keping mosaik sang disodorkan “sang guru” itu


1
Bagi orang jawa, kewajiban merancang itu adalah kewajiban "hamemayu hayuning bawana" - mempermolek buana yang sudah molek. Dan sudah barang tentu para arsitek Jawa juga menjadi penyandang amanah itu.


2
Matahari dan hujan adalah ekstrim dari ketiadaan air (matahari) dan kelimpahan air (hujan), adalah ekstrim dari meranggasnya bumi (matahari) dan menghijaunya lumut di bumi (hujan). matahari pula yang menjadikan pagi berteteskan embun dan bau tanah; hujan pula yang menjadikan langit berpelangi dan menebar aroma bau rumput. Matahari meramaikan bumi pertiwi dengan kicau burung sedang hujan menghadirkan simponi alam dengan katak dan jengkerik. Matahari membuat bumi menjadi cerah meriah oleh warna dan warni yang cemerlang; hujan menjadikan segenap kecerahan yang cemerlang menjadi seredup pandangan yang terhalang oleh tebalnya kabut.


3
Dalam arsitektur jawa, luasan lantai bagi daya tampung kegiatan bukan ditentukan oleh macam kegiatan yang akan diselenggarakan pada lantai terebut, melainkan pada luasan atap yang mampu menaungi kegiatan yang akan diselenggarakan.
Melakukan sesuatu kegiatan adalah sebuah konsumsi sepetak lahan, sepenggal bumi. Sebuah dialog dengan jagad di luar kemampuan manusia harus diselenggarakan dalam menentukan seberapa luas lantai yang akan diperoleh bagi sesuatu kegiatan yang akan diselenggarakan. Manusia tidak boleh dengan seenaknya mengatakan bahwa saya akan melakukan kegiatan seperti ini dan dengan demikian perlu seluas sekian meter persegi lantai bangunan. Mengapa tidak boleh seperti itu, sederhana saja, adalah karena kelakuan seperti itu tak lain hanyalah pengakuan atas egoisme manusia, dan pada gilirannya, pengakuan akan halalnya keserakahan.


4
Menetapkan luasan atap bukan sekadar sebuah persoalan teknik dan teknologi bangunan. Menetapkan luasan atap menjadi sebuah pernyataan bagaimana manusia Jawa beserta kegiatannya itu menyelenggarakan perbincangan dengan buana bagi hadirnya buana yang lebih molek. bernaung dan berteduh dari terik matahari dan derasnya curah hujan, adalah jelas-jelas bukan sebuah tindakan membangun perlindungan terhadap terik yan menyengat dan curah nan deras. Bangunan bukanlah perlindungan melainkan pernaungan dan perteduhan. Pernaungan memberi badan yang tidak terbakar terik serta tidak pula terguyur kuyup oleh curah yang deras. Perteduhan memberi kedamaian dan ketenangan bersama mentari dan hujan. damai dan tenang bersama alam dan buana. Atap memang bagaikan payung dan penutup kepala. Payung bukan hanya penaung badaniah melainkan juga ungkapan batiniah bagi status dan kehormatan nilai diri (dan karena itu raja dilengkapi dengan payung, dan jenazah yang akan dimakamkan dipayungi dalam perjalanan dari rumah ke pemakaman). atap juga penutup kepala, yang saat kepala ditutupi oleh caping adalah pertanda bekerja di sawah, saat kepala ditutup blangkon adalah pertanda menyelenggarakan perhelatan dan.atau penghadapan; saat kepala ditutup oleh kopiah maka kemusliman dan kebangsaan adalah petandanya.


5
Apakah lalu Jawa itu serba terbalut oleh kelembutan dan kedamaian yang tenang bagaikan tenangnya air di permukaan danau? kajilah keris, maka akan mencuatlah kegalakan dan keperkasaan Jawa. Tanggalkanlah baju surjan, gulunglah dodot hingga di atas lutut, lalu hunuslah keris, maka hanya dengan menikam (dan itu harus dalam jarak sedemikian dekatnya dengan lawan) terungkaplah keperwiraan, kesatriaan dan keperkasaan Jawa. Yang menarik, tidak diperlukan bangunan khusus bagi pertunjukan kegarangan orang Jawa, cukup alun-alun saja. Biarlah alam dan buana menjadi saksi bagaimana orang Jawa pamer kegarangan diri dengan mencabut nyawa yang telah dibina oleh alam dan buana.
Selanjutnya, apakah Jawa juga harus sepi dari tampilan yang gemerlap dan mewah meriah? kunjungi saja Dalem para bangsawan yang dibuat sebelum abad 20, maka akan kita saksikan bahwa bilah papan dan balok kayu dapat kehilangan wajah kayunya karena terbalut sepenuhnya oleh hiasan berwarna keemasan. Dan, bagaikan arsitektur Barok yang meniadakan dinding karena digambari saujana nan mempesona, demikian pula dengan penghiasan Jawa. Hanya saja, kalau Barok melakukan itu sebagai ungkapan kerinduan akan saujana dan alam-buana di luar sana; di Jawa kehadirannya bukanlah karena kerinduan. "Tiyang ingkang sumusup ing griya punika kadosta ngaub ing sangandhaping kajeng ageng" -- orang yang menyusup masuk ke dalam bangunan itu adalah bagaikan berteduh di bawah pohon yang sangat rindang. adalah penciptaan alam-buana yang artifisial namun tetap meneduhkan.
Naungan dan Teduhan, mempertemukan kembali bumi pertiwi dengan angkasa matahari dan angkasa hujan.
Naungan dan Teduhan menjadi buana yang sudah molek menjadi semakin molek saja adanya.


6
Arsitektur Jawa adalah arsitektur kayu, ah betapa piciknya pikiran kita. Bahan bangunan (dan teknologi membangun) bukanlah pengendali arsitektur Jawa; mereka itu pengendali hasrat, niat dan ambisi dari pemilik arsitektur. Setiap bahan memiliki ciri dan watak, dan inilah yang harus didialogkan dengan hasrat, niat dan ambisi. Dengan ciri dan wataknya, masing-masing bahan mengatakan bagaimana dia diperlakukan, bagaimana pula dia dirupakan, bahkan bagaimana pula dia bisa mendharmakan dirinya bagi bentukan yang dia rupakan. Dengarkanlah ke-bagaimana-an sang bahan, dan lakukanlah perjumpaan dan perbincangan dengan sahabat dan saudara akrabnya, yang tak lain adalah hasrat, niat dan ambisi manusia pengguna bahan itu. (Apakah ini lalu seperti yang diyakini oleh Louis I.Kahn? Silakan saja.) Ya, kayu dan bahan bangunan lainnya sang hasrat, sang niatan dan sang ambisi itu sendiri.
Ciri dan watak bahan, yang juga adalah kepribadian sang bahan, menyediakan dirinya untuk menyurut ke belakang sehubungan dengan manjingnya hasrat, niatan dan ambisi manusia. Dengan manjingnya hasrat dan niatan, sang bahan akan malih (transformed) menjadi sebongkah, sekeping, sebatang atau selembar ‘urip’ dari arsitektur Jawa. ‘Warangka manjing curiga – curiga manjing warangka’, demikian dikatakan oleh orang Jawa mengenai manjing itu. Di sinilah teknologi membangun memperoleh peran dan tugasnya, yakni memanjingkan yang manusia ke dalam yang bangunan, mengubah yang tanpa-urip menjadi urip.


7
Akankah arsitektur Jawa menghadirkan diri dengan bertumpu pada tajug, juglo, limansap dan kapung? Adalah ketololan yang tak terampuni bila arsitektur Jawa dikerdilkan menjadi sosok atap. Sosok wujud itu telah menjadi tanda jaman dari Jawa di masa hanacaraka (acrk). Kini masanya sudah abecede, bukan lagi hanacaraka. Sebuah arsitektur adalah sebuah pernaungan dan perteduhan yang urip, itulah sosok yang akan muncul sebagai arsitektur yang tetap Jawa. Dia yang Jawa belum tentu Jawa, dan yang Jawa sudah kehilangan Jawanya, itulah ungkapan yang mengamanahkan bahwa wajah dan kelakuan yang Jawa tidak cukup. yang lebih penting adalah hati sanubari yang Jawa, bukannya penampilan yang Jawa. Boleh saja tampil tidak Jawa namun dengan hati nurani dan sanubari yang Jawa, dia akan tetap lebih Jawa daripada yang mengenakan dodot, surjan dan blangkon tapi nol besar nurani dan sanubari kejawaannya.


a n c r k à ini Jawa, dan begini pula tajug, juglo, limansap dan kapung
ha na ca ra ka à ini jw, dan tidak lagi tajug, juglo, limansap atau kapung, bukan?


8
Jadi, siapa yang menghuni nurani dan sanubari arsitek, itu pulalah yang akan membuat arsitek menghadirkan arsitektur yang Jawa (kalau nurani dan sanubarinya Jawa), yang Bali (kalau nurani dan sanubarinya Bali) atau milis-manis (kalau nurani dan sanubarinya oportunistik). dengan nurani dan sanubari ini, gempitanya dunia arsitektur tidak ditanggapi dengan ingin menjadi pesohor, tetapi dengan ingin menjadi arsitek yang 'hamemayu hayuning bawana'. Biarlah jagad yang memberi penghargaan dan penilaian, jangan diri arsitek yang memasang harga dan nilai.
Sosok ragawiah arsitektur Nusantara Bali juga bisa hadir dengan gemerlap dan perkasa, namun hanya kehadiran yang tak beda dengan benda-benda mati semata; kecuali bila di dalam arsitektur itu telah dihunikan ‘pengurip’ –penghidup. Sia-sia saja kalau kita berusaha untuk melihat wujud ragawiah sang pengurip. Hanya dengan mengagumi dan meleburkan diri kita ke dalam arsitektur nusantara Bali akan dapat berjumpa dengan sang pengurip. Nurani dan sanubari arsitek juga adalah sang pengurip. Terbenam dalam-dalam dalam karya!


9
Yang pasti, bohong besar kalau arsitek yang seperti itu akan mati karena tak mendapat proyek. berlaku sebagaimana garam yang menyedapkan masakan tanpa memunculkan diri sebagai butir-butir garam, tidak berarti bahwa tanpa garam masakan akan sedap, bukan? Jagad buana ini disedapkan oleh garam demi garam arsitek yang menjadikan berarsitektur sebagai dharma. Leluhur Bumi Pertiwi kita menyuarakan kata-kata nan bijaksana: jangan pentingkan aku-mu, tapi pentingkan karya-mu". Aku-mu adalah yang tak berharga dan pantas untuk disebut, aku-mu selipkan saja setersembunyi mungkin di dalam karya; dan dengan demikian kebesaran karyamu akan dipenuhi oleh kekaguman dan penghargaan, mendapatkan pula keabadiannya. Dan oleh karena itu Juglo di Jawa itu tak dikenal siapa arsiteknya; demikian pula dengan tatadesa Bugbug dan Tenganan juga tak diketahui siapa perencananya. Dan oleh karena itu, kalau sejarah Barat itu menempatkan siapa sebagai yang sentral, dalam sejarah Bumi Pertiwi ini, apa yang menjadi peristiwa adalah yang sentral.


10
Akhirnya, how low(cal) can you go? sederhana saja jawabnya yakni "how deep can you serve dharma?"


Keputih, 10 desember 2007

Sunday, November 25, 2007

Seporsi gado-gado bagi 100 tahun Arsitektur Indonesia

[sajian bedah (naskah) “Tegang Bentang: Seratus tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia “ di toko buku Aksara – Kemang, Jakarta, 28 November 2007]
Pada pokoknya, buku ini adalah tentang arsitektur modern (di) Indonesia. Apakah akan menjadi buku pertama di Indonesia yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan didominasi oleh penulis Indonesia? Harapannya tentu demikian. Sekurangnya, buku ini akan melengkapi buku sejarah arsitektur Indonesia yang telah pernah ditulis oleh Yulianto Sumalyo. ‘Melengkapi’ dalam arti menyambung dan juga dalam arti memperkaya. Dalam arti menyambung, (naskah) Tegang Bentang ini menyuguhkan perkembangan semenjak munculnya AMI hingga di awal abad 21 ini. Dalam arti memperkaya, (naskah) Tegang Bentang ini menyuguhkan saat-saat perkembangan arsitektur modern (di) Indonesia dari perspektif yang tersendiri.
Tentu, pertama-tama akan dengan segera dikatakan bahwa naskah buku ini adalah tentang arsitektur modern Indonesia, dan bukan arsitektur modern di Indonesia. Bahkan bisa saja ada yang tak mempersoalkan beda mendasar yang membentang di antara kedua hal itu. Kita tentu akan segera melihat perbedaannya kalau yang pertama menunjuk pada arsitektur di era Indonesia-modern, bukan era Indonesia-kolonial atau era Indonesia-kuna. Untuk yang kedua, yang ditunjuk tentunya adalah arsitektur modern di Indonesia, bukan arsitektur kolonial di Indonesia, bukan pula arsitektur post-modern di Indonesia. Di sini lalu muncul pertanyaan apakah yang disajikan adalah arsitektur dari kurun waktu yang tertentu ataukah arsitektur dari langgam/gaya arsitektur yang tertentu? Simak saja judul dari masing-masing bab, maka dengan langsung dapat dirasakan keraguan ini.

Baiklah, kita anggap saja naskah ini ingin menggelarkan ‘tegang-bentang’ arsitektur modern yang bertumbuh kembang di Indonesia. Dari naskah ini dapat diruntut bagaimana arsitektur modern di Indonesia ini adalah ‘tanaman’ yang dicocokkan ke bumi Indonesia oleh arsitek-arsitek Belanda. Selanjutnya, tanaman ini dilanjutkan pemeliharaannya oleh arsitek-arsitek Indonesia, hingga sekarang. Bukan satu tanaman saja yang dicocokkan, tetapi dua tanaman yakni, yang pertama tanaman yang ‘murni’ dan yang kedua adalah yang ‘hibrid’, yang meng-etnik. Nah, apakah naskah buku ini memberi perhatian yang imbang atas keduanya? Ada keraguan tentang hal ini. Munculnya Wisma Darmala dan bukan Sendang Sono adalah contoh mencolok. (Mungkin ada kesulitan memperoleh penulis tentang Sendang Sono dan Mangunwijaya.) Ya, Mangunwijaya sebagai sosok yang berani menegaskan bahwa Wastu adalah ‘the other architecture’ (dan tak ada nama-nama lain yang disebutkan dalam naskah buku ini yang mengumandangkan hal yang setara keberanian Mangunwijaya ini)! Ya, Mangunwijaya yang mencocok bumi Indonesia dengan tanaman baru samasekali tidak diberi tempat terhormat di naskah buku ini.
Nasib yang serupa dialami pula oleh Silaban. Rupanya sosok Soekarno lebih penting bagi arsitektur (di) Indonesia daripada Silaban. Namun untuk yang satu ini saya masih bisa memaklumi, mengingat buku ini menggunakan ‘arsitektural’ pada judulnya, bukan ‘arsitektur’. (Meski demikian, hati kecil ini tidak mampu menerimanya.)

Jujur saja, ada juga kecurigaan bahwa naskah ini akan mengatasnamakan Jakarta sebagai Indonesia! Kemampuan naskah ini untuk mengIndonesia kelihatannya adalah hanya dalam bab terakhir, itupun hanya dalam tulisan terakhir. Sempitnya waktu dan komunikasi dengan daerah memang diduga kuat sebagai penyebabnya. Saya terusterang saja sangat keberatan kalau Jakarta diidentikkan dengan Indonesia! Menahan diri dengan menyebut Jakarta tentu akan tidak mengurangi kedahsyatan naskah ini; namun janganlah melakukan pars pro toto! Meskipun khususnya dalam era semenjak Orde Baru ada kelatahan daerah dan sekaligus pengkiblatan daerah pada Jakarta, pengIndonesiaan Jakarta itu tetap saja tidak terlalu jitu adanya.
Sebaiknya dilakukan pemolesan yang lebih seksama agar kesan tergesa-gesa dalam menyiapkan Tegang Bentang ini dapat dihilangkan. Untuk sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan dari berbagai penulis, menyatukan gaya penulisan tentu tak mungkin dilakukan. Meskipun masing-masing tulisan berupaya untuk memperlihatkan apa adanya mengenai tajuk yang dibicarakan, namun jelas sekali perbedaan dari Adhi Moersid dengan Gunawan Tjahjono, misalnya. Kalau keduanya disuguhkan sebagai sebuah urutan, seperti dilakukan di naskah ini, akan timbul pertanyaan pada pembaca: ini buku kumpulan tulisan santai atau kumpulan tulisan serius? (Apalagi, kedua tulisan itu didahului oleh sajian dari Ikaputra & Agus Dwi Wicaksono yang sangat serius sekaligus sangat berbeda dalam perspektif tinjaunya). Ya, penyunting masih harus menyentil para penulis untuk melakukan polesan gaya penulisan.

Arsitektur Indonesia Esok

[sajian pada acara "Appreciation of Indonesia's Rich Culture" oleh PermataBank - Kencana; Sheraton Hotel, Surabaya, 23 November 2007]
adakah keberanian kita untuk memperkirakan kearsitekturan di Indonesia di hari esok? Melalui pengamatan tas kekunoan dan kekinian arsitektur di Indonesia, sebuah kemungkinan bagi perkiraan itu mencuat ke permukaan.
Bagaimanakah Ke-KUNO-an arsitektur di Indonesia? Dengan mengambil perang-dunia II sebagai titik akhir ke-kuno-an arsitektur di Indonesia, dapat dikelompokkan kearsitekturan sebagai berikut.
kelompok pertama adalah kelompok arsitektur etnik. Dalam kelompok ini masuklah arsitektur percandian, arsitektur tradisional, arsitektur islam dan arsitektur cina. dalam titik ekstrimnya, boleh saja dikatakan sebagai arsitektur timur
kelompok kedua adalah kelompok arsitektur manca. Dalam kelompok ini ada arsitektur kolonial dan arsitektur modern hingga 1930-an. dalam titik ekstrimnya dapat dikatakan sebagai arsitektur barat
kelompok ketiga adalah kelompok gabungan/kombinasi. di sini dapat dicontohkan percandian sebagai gabungan antara arsitektur hindu/budha dengan arsitektur (pribumi) Jawa purba; juga, arsitektur kraton Yogyakarta, Surakarta dan Mangkunegaran (gabungan Manca-Jawa/Manca-Etnik)
ke-KUNO-an arsitektur dipatok pula dalam pemahaman bahwa arsitektur adalah karya seni bangunan.
Bagaimanakah ke-KINI-an arsitektur di Indonesia? Sejujurnya, yang dominan adalah pelanjutan dari arsitektur manca. Ada corak me-manca yang menghadirkan kembali ke-kolonial-an (yang dalam pengelompokan versi AM Stern dimasukkan ke dalam canonic classicism dan ironic classicism); ada pula yang menjadi pelanjutan dari arsitektur modern (termasuk minimalis dan ex-plaza), yakni yang mengandalkan geometri. dalam eksistensi sebagai minoritas, dapat pula disaksikan yang meng-etnik, meski yang ini banyak digabungkan dengan kemodernan.
Meskipun ke-KINI-an arsitektur juga masih mematok arsitektur sebagai seni bangunan, akan tetapi tak boleh disangkal adanya tanda-tanda yang makin hari makin menguat akan arsitektur adalah komoditas, sekurangnya arsitektur adalah produk jualan dan produk gayahidup/ungkapan diri.Dengan pengamatan seperti itu, arsitektur Indonesia ESOK akan semakin menjadikan komoditas dan seni bangunan sebagai gabungan bagi pengenalan dan pemahaman atas arsitektur. Bila demikian halnya, maka hari esok arsitektur Indonesia akan menghadirkan perwajahan yang berikut ini. Pertama-tama, tentulah arsitektur yang me-mancanegara/mancabangsa. Arsitektur yang satu ini masih akan dominan hingga sekurangnya sepuluh tahun mendatang. Yang berikutnya adalah arsitektur yang meng-etnik. Arsitektur yang satu ini merupakan gabungan/gubahan dari yang etnik dengan yang manca. Asalkan semenjak sekarang dilakukan dorongan-dorongan dan promosi akan kekayaan arsitektur etnik, maka dalam sepuluh tahun mendatang akan mulai terlihat arsitektur yang meng-etnik ini sebagai arsitektur etnik yang mendunia/mengglobal.

Galih Widjil Pangarsa, mendampingi Mangunwijaya!

Tidak ada yang menyangkal bahwa Mangunwijaya adalah sosok pertama yang menegaskan bahwa arsitektur 'barat' berbeda dari arsitektur Nusantara. Beliau lalu merumuskan Vastu/wastu sebagai pendamping arsitektur Barat. Di sini, Arsitektur barat beserta Vitruvius disisihkannya, diganti dengan Vastu/Wastu. Kita lalu diberi suguhan dua sumber kearsitekturan yang berbeda; kita lalu diyakinkan bahwa arsitektur barat bukan satu-satunya sumber kearsitekturan. Ya, Mangunwijaya tidak menolak arsitektur Barat melainkan menunjukkan bahwa arsitektur barat bukanlah satu-satunya 'kebenaran arsitektur'. Vastu/Wastu adalah juga sebuah 'kebenaran arsitektur'.
duapuluh lima tahun berlalu, satu generasi berlalu. Sementara Vastu/Wastu dari Mangunwijaya nyaris tidak mendapat tanggapan dari dunia arsitektur di Indonesia, sesosok generasi murid Mangunwijaya tampil ke gelanggang arsitektur di Indonesia dengan pemikiran baru. Erosentrisme menjadi lawan yang harus dikalahkan, tentu saja erosentrisme dalam arsitektur khususnya. siapakah yang harus menjadi lawan dan mengalahkan erosentrisme itu? Arsitektur Nusantara! Seandainya saja dasar-dasar tinjau dari Arsitektur Nusantara mas Galih ini tidak dieksklusifkan ke Islam (melainkan di'semesta'kan menjadi religi/ositas versi Mangunwijaya dalam 'Sastra dan Religiositas', dan sebenarnya saja dasar-dasar tinjau itu juga ada dalam agama-agama selain Islam) tentu akan menjadi semakin dahsyat keberadaan Arsitektur Nusantara ini. Kalau Mangunwijaya membuka mata kita akan kedahsyatan Vastu/Wastu (Arsitektur Nusantara) sebagai 'the other' terhadap arsitektur barat; Galih Widjil mendahsyatkan arsitektur Nusantara sebagai lawan dari arsitektur-barat/erosentrisme! Bila Mangunwijaya beralaskan Kebudayaan dan kesenian dalam membangun Vastu/Wastu (Arsitektur Nusantara) maka Galih Widjil beralaskan Islam.