Tuesday, December 18, 2007

Pandhapa Juglo

1
Pengenalan dan pemahaman atas arsitektur Jawa telah bertumbuh-kembang dengan semakin meluas dan mendalam. Berkat penelitian dan studi terhadap arsitektur Jawa, kini telah dapat diketahui mana sajakah pengetahuan arsitektur Jawa yang bersumber pada sumber-sumber asli Jawa dan mana pula yang bersumber dari pengamatan empirik lapangan. Apabila dalam pengetahuan yang bersumber pada pengamatan lapangan dikatakan adanya muatan mistik dan kepercayaan yang terkadang tidak mudah diterima oleh nalar; tidak demikian halnya dengan yang bersumber pada sumber-sumber asli Jawa. Serat Centhini, Kawruh Griya dan Kawruh Kalang adalah contoh dari sumber asli Jawa yang dapat dikemukakan di sini. Melalui sumber-sumber tadi dapat diketahui bahwa arsitektur Jawa yang berada di pedalaman (bukan yang pesisiran) banyak berhutang pada arsitektur Jawa yang di Ponorogo. Dikatakan dalam Serat Centhini bahwa di Ponorogo dihimpun ketentuan-ketentuan merancang arsitektur Jawa. Di lingkungan para tukang dan ahli bangunan tradisional di Surakarta, hingga awal tahun 2000 masih berlaku ‘corak Ponoragan’ sebagai corak arsitektur Jawa yang dianggap lebih tua dan lebih baku. Menyadari bahwa pengenalan dan pemahaman yang bersumber dari sumber-sumber asli Jawa ini belum banyak dikenalkan dan dimasyarakatkan, dalam kesempatan ini hal-ihwal Pandhapa Juglo akan disampaikan dengan menggunakan sumber-sumber asli Jawa tersebut.

2
Pandhapa, yang dalam masa kini banyak disebut ‘pendapa’, merupakan salah satu bangunan dengan penggunaan atau peruntukan yang tertentu, yakni penggunaan atau peruntukan yang mengandung nilai-nilai sosial-kemasyarakatan tertentum dan oleh karena itu Pandhapa ini menunjuk pada bangunan yang cenderung bersifat publik. Sementara itu, Juglo, yang dalam masakini banyak dikatakan sebagai “Joglo’, adalah sebutan bagi salah satu dhapur, tipe/sosok bangunan, atau lazim dikenal dengan tipe bentuk bangunan. Dengan demikian, sebuah Pandhapa Juglo adalah sebuah bangunan dengan penggunaan atau peruntukan yang tertentu serta memiliki bentuk bangunan yang juga tertentu.

3
Pandhapa menjadi salah satu guna dari arsitektur Jawa. Guna yang lain misalnya adalah griya-wingking (tempat berhuni), pringgitan, gandhok, regol dan yang lainnya. Di sini, guna merupakan pendayagunaan dari bangunan yang didirikan sehingga manusia dapat melakukan berbagai kegiatan di sana. Dari naskah-naskah kuno diketahui bahwa pendayagunaan bangunan ditentukan oleh luasan atap bangunan. Sebagaimana diketahui, dalam arsitektur Jawa, atap bangunan menjadi bagian bangunan yang menyandang sejumlah peran atau fungsi dan salah satu dari peran itu adalah menaungi, menjadi penaung. Dalam iklim tropis yang tidak mengenal musim dingin yang membekukan, terik matahari dan derasnya curah hujan menjadi faktor utama yang mempengaruhi kegiatan atau aktivitas manusia. agar kegiatan tidak terhambat oleh terik matahari atau derasnya hujan, dibangunlah naungan atau teduhan, dibuatlah tempat bernaung dan berteduh. Dengan pemikiran dasar seperti ini, maka luas dan sempitnya atap bangunan dapat digunakan sebagai indikator bagi macam kegiatan yang berlangsung di bawah naungan atau teduhan tadi. Ini berarti bahwa semakin luas bidang atapnya, akan semakin luas pula area bernaung atau berteduhnya; dan dengan demikian semakin beraneka kegiatan yang dapat diselenggarakan. di samping itu, semakin luas atap penaung atau peneduh ini, akan semakin banyak pula manusia yang dapat melakukan kegiatan di bawah naungan atap tadi. oleh karena itu, tidaklah mengherankan bila luas atau sempitnya atap bangunan mengindikasikan besar-kecilnya daya tampung pernaungan atau perteduhan tadi.
Pandhapa disebut pula sebagai griya-ngajeng, bangunan-depan. sebagai sebuah griya-ngajeng seharusnya pandhapa dilengkapi dengan griya-wingking, bangunan-belakang. Dalam konfigurasi dari griya-ngajeng dan griya-wingking, kegiatan yang terselenggara lalu memiliki tingkatan yang berbeda. Griya-ngajeng yang berada di depan griya-wingking lalu menjadi bangunan yang digunakan untuk menjadi tempat bertemunya penghuni dengan para tamu yang berkunjung. Sudah barang tentu, semakin banyak jumlah tamu yang berkunjung akan semakin luas pula atap penaungnya. Oleh karena itu tidak mengherankan bila terkadang dijumpai griya-ngajeng yang lebih besar daripada griya-wingking. Selanjutnya, sebagai tempat bertemunya penghuni dengan tamu, orang luar, griya-ngajeng ini lalu menjadi gugus bangunan yang mengakomodasi kegiatan yang bersifat lebih publik (dibandingkan dengan griya-wingking). dengan demikian, griya-ngajeng ini merupakan pula gugus bangunan yang memiliki nilai sosial-kemasyarakatan yang cenderung tinggi. Muatan nilai itu pula yang memungkinkan griya-ngajeng untuk menjadi tempat rapat, pertemuan, perhelatan (resepsi) maupun tempat apresiasi kebudayaan. dalam penggunaan-penggunaan seperti itulah sebutan griya-ngajeng lalu berganti dengan sebutan pandhapa.

4
Peran lain dari atap adalah bagaikan penutup kepala yang dikenakan oleh orang Jawa. Sebagaimana diketahui, ada bermacam-macam penutup kepala yang dipunyai orang Jawa seperti blangkon atau udheng, caping, capil, kopiah, sorban dan sebagainya. masing-masing penutup kepala itu dipakai untuk keperluan atau kegiatan yang tertentu. Misalnya saja, blangkon tidak dikenakan untuk melakukan pekerjaan menggarap sawah, dan caping tidak digunakan untuk menghadap Lurah atau Bupati. Dalam arsitektur Jawa, peran atap yang bagaikan penutup kepala ini diakomodasi dengan menyuguhkan lima dhapur-griya, tipe/sosok bangunan, yaitu dhapur tajug, juglo, limansap, kapung dan dhapur panggang-pe. Perlu dikemukakan di sini bahwa dhapur/tipe ini menunjuk pada keseluruhan sosok bangunan, bukan hanya pada atap bangunannya. Telah menjadi kelaziman bila dhapur tajug ini kebanyakan dipakai pada bangunan-bangunan yang cenderung sakral; sedang dhapur kapung dan panggang-pe dipakai bagi bangunan-bangunan utilitarian. Sekali lagi itu adalah kebiasaan atau kelaziman belaka, bukan rumus atau aturan (kepastian seperti itu dapat dibuktikan dengan menunjuk sumber-sumber asli Jawa). Ini berarti bahwa antara bentuk bangunan (dhapur griya) dengan guna bangunan (guna-griya) tidak terdapat hubungan saling mengikat. Sebuah masjid dapat saja dan boleh saja memiliki bantuk bangunan berupa dhapur tajug ataupun dhapur kapung.
Sementara itu, pada setiap dhapur/tipe, ada dua pilihan corak bangunan yakni corak jaler atau enem, dan corak estri atau sepuh. Apabila tampilan bangunan secara keseluruhan cenderung menegak atau meninggi (vertikal), tampilan ini dikatakan jaler atau enem. Sebaliknya, bila cenderung mendatar atau melebar (horisontal), tampilan seperti ini dikatakan estri atau sepuh. Dengan pilihan corak ini, sebuah bentukan dapat dikatakan sebagai bentukan yang tergolong juglo enem atau sebagai juglo estri; ataukah tergolong ke dlam limansap jaler atau limansap sepuh. Adanya pilihan corak ini mengindikasikan bahwa dalam merancang arsitektur Jawa dituntut adanya kepekaan akan proporsi dan komposisi.

5
Apakah arsitektur Jawa harus memiliki ornamentasi atau dekorasi yang terkadang hadir secara melimpah pada bangunan? Sumber-sumber asli Jawa tidak mengharuskan bangunan memiliki ornamen atau dekorasi. Hadirnya ornamen dan dekorasi itu sepenuhnya diserahkan pada pemilik bangunan. Jikalau pemilik bangunan berhasrat untuk mempercantik atau memperindah bangunannya, mengingat pemilik memang memiliki kecintaan dan apresiasi yang tinggi terhadap seni bangunan, maka ornamentasi dan dekorasi dapat dia hadirkan pada bangunan. Disadari sepenuhnya bahwa ornamentasi dan dekorasi pada bangunan adalah sebuah tambahan biaya yang harus dikeluarkan dalam membangun, dan oleh karena itu kehadiran dari ornamen dan dekorasi itu banyak dikendalikan oleh ketersediaan biaya. Di sini pula muncul anggapan bahwa penghadiran ornamen atau dekorasi itu dapat dipakai sebagai indikasi bagi tingkat kekayaan atau status seseorang. Anggapan seperti ini adalah anggapan yang salah; sebab, hadirnya ornamen atau dekorasi itu adalah sebagai pernyataan atau sikap mengapresiasi keindahan karya cipta. Oleh karena itu, apabila bangunan yang dibuat ternyata tidak memakai ornamen atau dekorasi, hadirnya sebuah bangunan yang indah dan mempesona adalah kewajiban.

6Di depan telah dikatakan bahwa Pandhapa Juglo adalah sebutan bagi bangunandengan penggunaan atau peruntukan yang tertentu, serta memiliki bentuk bangunan yang tertentu. Pada masakini banyak yang beranggapan bahwa bangunan Pandhapa harus memiliki bentuk bangunan Juglo. Dengan menggunakan sumber-sumber asli Jawa dapat diketahui bahwa anggapan itu tidak benar. Jadi, sebuah pandhapa tidak harus mempunyai bentuk juglo; dan sebaliknya, bentuk juglo tidak harus digunakan hanya untuk pandhapa. Dari sumber-sumber tadi diyakini bahwa sebuah Pandhapa boleh saja tidak berbentuk juglo. Dari sini lalu dapat diyakini bahwa sebuah pandhapa yang memiliki bentuk juglo adalah sebuah ketetapan yang dibuat oleh pemilik atau perancang bahwa bentuk yang dipakai adalah bentuk juglo. Mengapa memakai bentuk Juglo, ini adalah karena memang bentuk juglo ini merupakan salah satu ciri bentuk dari arsitektur Jawa. Oleh karena itu, sebuah Pandhapa Juglo lalu merupakan pandhapa yang menampakkan bentukan yang berciri arsitektural Jawa.

1 comment:

Anonymous said...

improved search engine ranking seo software best backlinks seo backlinks