Sunday, November 25, 2007

Seporsi gado-gado bagi 100 tahun Arsitektur Indonesia

[sajian bedah (naskah) “Tegang Bentang: Seratus tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia “ di toko buku Aksara – Kemang, Jakarta, 28 November 2007]
Pada pokoknya, buku ini adalah tentang arsitektur modern (di) Indonesia. Apakah akan menjadi buku pertama di Indonesia yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan didominasi oleh penulis Indonesia? Harapannya tentu demikian. Sekurangnya, buku ini akan melengkapi buku sejarah arsitektur Indonesia yang telah pernah ditulis oleh Yulianto Sumalyo. ‘Melengkapi’ dalam arti menyambung dan juga dalam arti memperkaya. Dalam arti menyambung, (naskah) Tegang Bentang ini menyuguhkan perkembangan semenjak munculnya AMI hingga di awal abad 21 ini. Dalam arti memperkaya, (naskah) Tegang Bentang ini menyuguhkan saat-saat perkembangan arsitektur modern (di) Indonesia dari perspektif yang tersendiri.
Tentu, pertama-tama akan dengan segera dikatakan bahwa naskah buku ini adalah tentang arsitektur modern Indonesia, dan bukan arsitektur modern di Indonesia. Bahkan bisa saja ada yang tak mempersoalkan beda mendasar yang membentang di antara kedua hal itu. Kita tentu akan segera melihat perbedaannya kalau yang pertama menunjuk pada arsitektur di era Indonesia-modern, bukan era Indonesia-kolonial atau era Indonesia-kuna. Untuk yang kedua, yang ditunjuk tentunya adalah arsitektur modern di Indonesia, bukan arsitektur kolonial di Indonesia, bukan pula arsitektur post-modern di Indonesia. Di sini lalu muncul pertanyaan apakah yang disajikan adalah arsitektur dari kurun waktu yang tertentu ataukah arsitektur dari langgam/gaya arsitektur yang tertentu? Simak saja judul dari masing-masing bab, maka dengan langsung dapat dirasakan keraguan ini.

Baiklah, kita anggap saja naskah ini ingin menggelarkan ‘tegang-bentang’ arsitektur modern yang bertumbuh kembang di Indonesia. Dari naskah ini dapat diruntut bagaimana arsitektur modern di Indonesia ini adalah ‘tanaman’ yang dicocokkan ke bumi Indonesia oleh arsitek-arsitek Belanda. Selanjutnya, tanaman ini dilanjutkan pemeliharaannya oleh arsitek-arsitek Indonesia, hingga sekarang. Bukan satu tanaman saja yang dicocokkan, tetapi dua tanaman yakni, yang pertama tanaman yang ‘murni’ dan yang kedua adalah yang ‘hibrid’, yang meng-etnik. Nah, apakah naskah buku ini memberi perhatian yang imbang atas keduanya? Ada keraguan tentang hal ini. Munculnya Wisma Darmala dan bukan Sendang Sono adalah contoh mencolok. (Mungkin ada kesulitan memperoleh penulis tentang Sendang Sono dan Mangunwijaya.) Ya, Mangunwijaya sebagai sosok yang berani menegaskan bahwa Wastu adalah ‘the other architecture’ (dan tak ada nama-nama lain yang disebutkan dalam naskah buku ini yang mengumandangkan hal yang setara keberanian Mangunwijaya ini)! Ya, Mangunwijaya yang mencocok bumi Indonesia dengan tanaman baru samasekali tidak diberi tempat terhormat di naskah buku ini.
Nasib yang serupa dialami pula oleh Silaban. Rupanya sosok Soekarno lebih penting bagi arsitektur (di) Indonesia daripada Silaban. Namun untuk yang satu ini saya masih bisa memaklumi, mengingat buku ini menggunakan ‘arsitektural’ pada judulnya, bukan ‘arsitektur’. (Meski demikian, hati kecil ini tidak mampu menerimanya.)

Jujur saja, ada juga kecurigaan bahwa naskah ini akan mengatasnamakan Jakarta sebagai Indonesia! Kemampuan naskah ini untuk mengIndonesia kelihatannya adalah hanya dalam bab terakhir, itupun hanya dalam tulisan terakhir. Sempitnya waktu dan komunikasi dengan daerah memang diduga kuat sebagai penyebabnya. Saya terusterang saja sangat keberatan kalau Jakarta diidentikkan dengan Indonesia! Menahan diri dengan menyebut Jakarta tentu akan tidak mengurangi kedahsyatan naskah ini; namun janganlah melakukan pars pro toto! Meskipun khususnya dalam era semenjak Orde Baru ada kelatahan daerah dan sekaligus pengkiblatan daerah pada Jakarta, pengIndonesiaan Jakarta itu tetap saja tidak terlalu jitu adanya.
Sebaiknya dilakukan pemolesan yang lebih seksama agar kesan tergesa-gesa dalam menyiapkan Tegang Bentang ini dapat dihilangkan. Untuk sebuah buku yang berisi kumpulan tulisan dari berbagai penulis, menyatukan gaya penulisan tentu tak mungkin dilakukan. Meskipun masing-masing tulisan berupaya untuk memperlihatkan apa adanya mengenai tajuk yang dibicarakan, namun jelas sekali perbedaan dari Adhi Moersid dengan Gunawan Tjahjono, misalnya. Kalau keduanya disuguhkan sebagai sebuah urutan, seperti dilakukan di naskah ini, akan timbul pertanyaan pada pembaca: ini buku kumpulan tulisan santai atau kumpulan tulisan serius? (Apalagi, kedua tulisan itu didahului oleh sajian dari Ikaputra & Agus Dwi Wicaksono yang sangat serius sekaligus sangat berbeda dalam perspektif tinjaunya). Ya, penyunting masih harus menyentil para penulis untuk melakukan polesan gaya penulisan.

No comments: