[sajian pada acara "Appreciation of Indonesia's Rich Culture" oleh PermataBank - Kencana; Sheraton Hotel, Surabaya, 23 November 2007]
adakah keberanian kita untuk memperkirakan kearsitekturan di Indonesia di hari esok? Melalui pengamatan tas kekunoan dan kekinian arsitektur di Indonesia, sebuah kemungkinan bagi perkiraan itu mencuat ke permukaan.
Bagaimanakah Ke-KUNO-an arsitektur di Indonesia? Dengan mengambil perang-dunia II sebagai titik akhir ke-kuno-an arsitektur di Indonesia, dapat dikelompokkan kearsitekturan sebagai berikut.
kelompok pertama adalah kelompok arsitektur etnik. Dalam kelompok ini masuklah arsitektur percandian, arsitektur tradisional, arsitektur islam dan arsitektur cina. dalam titik ekstrimnya, boleh saja dikatakan sebagai arsitektur timur
kelompok kedua adalah kelompok arsitektur manca. Dalam kelompok ini ada arsitektur kolonial dan arsitektur modern hingga 1930-an. dalam titik ekstrimnya dapat dikatakan sebagai arsitektur barat
kelompok ketiga adalah kelompok gabungan/kombinasi. di sini dapat dicontohkan percandian sebagai gabungan antara arsitektur hindu/budha dengan arsitektur (pribumi) Jawa purba; juga, arsitektur kraton Yogyakarta, Surakarta dan Mangkunegaran (gabungan Manca-Jawa/Manca-Etnik)
ke-KUNO-an arsitektur dipatok pula dalam pemahaman bahwa arsitektur adalah karya seni bangunan.
Bagaimanakah ke-KINI-an arsitektur di Indonesia? Sejujurnya, yang dominan adalah pelanjutan dari arsitektur manca. Ada corak me-manca yang menghadirkan kembali ke-kolonial-an (yang dalam pengelompokan versi AM Stern dimasukkan ke dalam canonic classicism dan ironic classicism); ada pula yang menjadi pelanjutan dari arsitektur modern (termasuk minimalis dan ex-plaza), yakni yang mengandalkan geometri. dalam eksistensi sebagai minoritas, dapat pula disaksikan yang meng-etnik, meski yang ini banyak digabungkan dengan kemodernan.
Meskipun ke-KINI-an arsitektur juga masih mematok arsitektur sebagai seni bangunan, akan tetapi tak boleh disangkal adanya tanda-tanda yang makin hari makin menguat akan arsitektur adalah komoditas, sekurangnya arsitektur adalah produk jualan dan produk gayahidup/ungkapan diri.Dengan pengamatan seperti itu, arsitektur Indonesia ESOK akan semakin menjadikan komoditas dan seni bangunan sebagai gabungan bagi pengenalan dan pemahaman atas arsitektur. Bila demikian halnya, maka hari esok arsitektur Indonesia akan menghadirkan perwajahan yang berikut ini. Pertama-tama, tentulah arsitektur yang me-mancanegara/mancabangsa. Arsitektur yang satu ini masih akan dominan hingga sekurangnya sepuluh tahun mendatang. Yang berikutnya adalah arsitektur yang meng-etnik. Arsitektur yang satu ini merupakan gabungan/gubahan dari yang etnik dengan yang manca. Asalkan semenjak sekarang dilakukan dorongan-dorongan dan promosi akan kekayaan arsitektur etnik, maka dalam sepuluh tahun mendatang akan mulai terlihat arsitektur yang meng-etnik ini sebagai arsitektur etnik yang mendunia/mengglobal.
adakah keberanian kita untuk memperkirakan kearsitekturan di Indonesia di hari esok? Melalui pengamatan tas kekunoan dan kekinian arsitektur di Indonesia, sebuah kemungkinan bagi perkiraan itu mencuat ke permukaan.
Bagaimanakah Ke-KUNO-an arsitektur di Indonesia? Dengan mengambil perang-dunia II sebagai titik akhir ke-kuno-an arsitektur di Indonesia, dapat dikelompokkan kearsitekturan sebagai berikut.
kelompok pertama adalah kelompok arsitektur etnik. Dalam kelompok ini masuklah arsitektur percandian, arsitektur tradisional, arsitektur islam dan arsitektur cina. dalam titik ekstrimnya, boleh saja dikatakan sebagai arsitektur timur
kelompok kedua adalah kelompok arsitektur manca. Dalam kelompok ini ada arsitektur kolonial dan arsitektur modern hingga 1930-an. dalam titik ekstrimnya dapat dikatakan sebagai arsitektur barat
kelompok ketiga adalah kelompok gabungan/kombinasi. di sini dapat dicontohkan percandian sebagai gabungan antara arsitektur hindu/budha dengan arsitektur (pribumi) Jawa purba; juga, arsitektur kraton Yogyakarta, Surakarta dan Mangkunegaran (gabungan Manca-Jawa/Manca-Etnik)
ke-KUNO-an arsitektur dipatok pula dalam pemahaman bahwa arsitektur adalah karya seni bangunan.
Bagaimanakah ke-KINI-an arsitektur di Indonesia? Sejujurnya, yang dominan adalah pelanjutan dari arsitektur manca. Ada corak me-manca yang menghadirkan kembali ke-kolonial-an (yang dalam pengelompokan versi AM Stern dimasukkan ke dalam canonic classicism dan ironic classicism); ada pula yang menjadi pelanjutan dari arsitektur modern (termasuk minimalis dan ex-plaza), yakni yang mengandalkan geometri. dalam eksistensi sebagai minoritas, dapat pula disaksikan yang meng-etnik, meski yang ini banyak digabungkan dengan kemodernan.
Meskipun ke-KINI-an arsitektur juga masih mematok arsitektur sebagai seni bangunan, akan tetapi tak boleh disangkal adanya tanda-tanda yang makin hari makin menguat akan arsitektur adalah komoditas, sekurangnya arsitektur adalah produk jualan dan produk gayahidup/ungkapan diri.Dengan pengamatan seperti itu, arsitektur Indonesia ESOK akan semakin menjadikan komoditas dan seni bangunan sebagai gabungan bagi pengenalan dan pemahaman atas arsitektur. Bila demikian halnya, maka hari esok arsitektur Indonesia akan menghadirkan perwajahan yang berikut ini. Pertama-tama, tentulah arsitektur yang me-mancanegara/mancabangsa. Arsitektur yang satu ini masih akan dominan hingga sekurangnya sepuluh tahun mendatang. Yang berikutnya adalah arsitektur yang meng-etnik. Arsitektur yang satu ini merupakan gabungan/gubahan dari yang etnik dengan yang manca. Asalkan semenjak sekarang dilakukan dorongan-dorongan dan promosi akan kekayaan arsitektur etnik, maka dalam sepuluh tahun mendatang akan mulai terlihat arsitektur yang meng-etnik ini sebagai arsitektur etnik yang mendunia/mengglobal.

No comments:
Post a Comment