Tuesday, December 18, 2007

How Low(cal) Can You Go?

0
ditempatkan menjadi guru bukan sebuah tindakan yang benar kalau dia lalu menjadi sosok yang di guGU dan ditiRU (yang dipercaya dan diturut), melainkan menjadi sosok yang menjadikan orang lain memiliki kebijaksanaan yang melebihi dirinya. Alih-alih segalanya disampaikan dengan langsung dan jelas bagaikan gambar Kumbakarna atau Sukasrana, adalah keping-kepinig mosaik yang akan disampaikan oleh “guru”, dan dipersilakan pada muridnya untuk membangun gambar dari keping-keping mosaik sang disodorkan “sang guru” itu


1
Bagi orang jawa, kewajiban merancang itu adalah kewajiban "hamemayu hayuning bawana" - mempermolek buana yang sudah molek. Dan sudah barang tentu para arsitek Jawa juga menjadi penyandang amanah itu.


2
Matahari dan hujan adalah ekstrim dari ketiadaan air (matahari) dan kelimpahan air (hujan), adalah ekstrim dari meranggasnya bumi (matahari) dan menghijaunya lumut di bumi (hujan). matahari pula yang menjadikan pagi berteteskan embun dan bau tanah; hujan pula yang menjadikan langit berpelangi dan menebar aroma bau rumput. Matahari meramaikan bumi pertiwi dengan kicau burung sedang hujan menghadirkan simponi alam dengan katak dan jengkerik. Matahari membuat bumi menjadi cerah meriah oleh warna dan warni yang cemerlang; hujan menjadikan segenap kecerahan yang cemerlang menjadi seredup pandangan yang terhalang oleh tebalnya kabut.


3
Dalam arsitektur jawa, luasan lantai bagi daya tampung kegiatan bukan ditentukan oleh macam kegiatan yang akan diselenggarakan pada lantai terebut, melainkan pada luasan atap yang mampu menaungi kegiatan yang akan diselenggarakan.
Melakukan sesuatu kegiatan adalah sebuah konsumsi sepetak lahan, sepenggal bumi. Sebuah dialog dengan jagad di luar kemampuan manusia harus diselenggarakan dalam menentukan seberapa luas lantai yang akan diperoleh bagi sesuatu kegiatan yang akan diselenggarakan. Manusia tidak boleh dengan seenaknya mengatakan bahwa saya akan melakukan kegiatan seperti ini dan dengan demikian perlu seluas sekian meter persegi lantai bangunan. Mengapa tidak boleh seperti itu, sederhana saja, adalah karena kelakuan seperti itu tak lain hanyalah pengakuan atas egoisme manusia, dan pada gilirannya, pengakuan akan halalnya keserakahan.


4
Menetapkan luasan atap bukan sekadar sebuah persoalan teknik dan teknologi bangunan. Menetapkan luasan atap menjadi sebuah pernyataan bagaimana manusia Jawa beserta kegiatannya itu menyelenggarakan perbincangan dengan buana bagi hadirnya buana yang lebih molek. bernaung dan berteduh dari terik matahari dan derasnya curah hujan, adalah jelas-jelas bukan sebuah tindakan membangun perlindungan terhadap terik yan menyengat dan curah nan deras. Bangunan bukanlah perlindungan melainkan pernaungan dan perteduhan. Pernaungan memberi badan yang tidak terbakar terik serta tidak pula terguyur kuyup oleh curah yang deras. Perteduhan memberi kedamaian dan ketenangan bersama mentari dan hujan. damai dan tenang bersama alam dan buana. Atap memang bagaikan payung dan penutup kepala. Payung bukan hanya penaung badaniah melainkan juga ungkapan batiniah bagi status dan kehormatan nilai diri (dan karena itu raja dilengkapi dengan payung, dan jenazah yang akan dimakamkan dipayungi dalam perjalanan dari rumah ke pemakaman). atap juga penutup kepala, yang saat kepala ditutupi oleh caping adalah pertanda bekerja di sawah, saat kepala ditutup blangkon adalah pertanda menyelenggarakan perhelatan dan.atau penghadapan; saat kepala ditutup oleh kopiah maka kemusliman dan kebangsaan adalah petandanya.


5
Apakah lalu Jawa itu serba terbalut oleh kelembutan dan kedamaian yang tenang bagaikan tenangnya air di permukaan danau? kajilah keris, maka akan mencuatlah kegalakan dan keperkasaan Jawa. Tanggalkanlah baju surjan, gulunglah dodot hingga di atas lutut, lalu hunuslah keris, maka hanya dengan menikam (dan itu harus dalam jarak sedemikian dekatnya dengan lawan) terungkaplah keperwiraan, kesatriaan dan keperkasaan Jawa. Yang menarik, tidak diperlukan bangunan khusus bagi pertunjukan kegarangan orang Jawa, cukup alun-alun saja. Biarlah alam dan buana menjadi saksi bagaimana orang Jawa pamer kegarangan diri dengan mencabut nyawa yang telah dibina oleh alam dan buana.
Selanjutnya, apakah Jawa juga harus sepi dari tampilan yang gemerlap dan mewah meriah? kunjungi saja Dalem para bangsawan yang dibuat sebelum abad 20, maka akan kita saksikan bahwa bilah papan dan balok kayu dapat kehilangan wajah kayunya karena terbalut sepenuhnya oleh hiasan berwarna keemasan. Dan, bagaikan arsitektur Barok yang meniadakan dinding karena digambari saujana nan mempesona, demikian pula dengan penghiasan Jawa. Hanya saja, kalau Barok melakukan itu sebagai ungkapan kerinduan akan saujana dan alam-buana di luar sana; di Jawa kehadirannya bukanlah karena kerinduan. "Tiyang ingkang sumusup ing griya punika kadosta ngaub ing sangandhaping kajeng ageng" -- orang yang menyusup masuk ke dalam bangunan itu adalah bagaikan berteduh di bawah pohon yang sangat rindang. adalah penciptaan alam-buana yang artifisial namun tetap meneduhkan.
Naungan dan Teduhan, mempertemukan kembali bumi pertiwi dengan angkasa matahari dan angkasa hujan.
Naungan dan Teduhan menjadi buana yang sudah molek menjadi semakin molek saja adanya.


6
Arsitektur Jawa adalah arsitektur kayu, ah betapa piciknya pikiran kita. Bahan bangunan (dan teknologi membangun) bukanlah pengendali arsitektur Jawa; mereka itu pengendali hasrat, niat dan ambisi dari pemilik arsitektur. Setiap bahan memiliki ciri dan watak, dan inilah yang harus didialogkan dengan hasrat, niat dan ambisi. Dengan ciri dan wataknya, masing-masing bahan mengatakan bagaimana dia diperlakukan, bagaimana pula dia dirupakan, bahkan bagaimana pula dia bisa mendharmakan dirinya bagi bentukan yang dia rupakan. Dengarkanlah ke-bagaimana-an sang bahan, dan lakukanlah perjumpaan dan perbincangan dengan sahabat dan saudara akrabnya, yang tak lain adalah hasrat, niat dan ambisi manusia pengguna bahan itu. (Apakah ini lalu seperti yang diyakini oleh Louis I.Kahn? Silakan saja.) Ya, kayu dan bahan bangunan lainnya sang hasrat, sang niatan dan sang ambisi itu sendiri.
Ciri dan watak bahan, yang juga adalah kepribadian sang bahan, menyediakan dirinya untuk menyurut ke belakang sehubungan dengan manjingnya hasrat, niatan dan ambisi manusia. Dengan manjingnya hasrat dan niatan, sang bahan akan malih (transformed) menjadi sebongkah, sekeping, sebatang atau selembar ‘urip’ dari arsitektur Jawa. ‘Warangka manjing curiga – curiga manjing warangka’, demikian dikatakan oleh orang Jawa mengenai manjing itu. Di sinilah teknologi membangun memperoleh peran dan tugasnya, yakni memanjingkan yang manusia ke dalam yang bangunan, mengubah yang tanpa-urip menjadi urip.


7
Akankah arsitektur Jawa menghadirkan diri dengan bertumpu pada tajug, juglo, limansap dan kapung? Adalah ketololan yang tak terampuni bila arsitektur Jawa dikerdilkan menjadi sosok atap. Sosok wujud itu telah menjadi tanda jaman dari Jawa di masa hanacaraka (acrk). Kini masanya sudah abecede, bukan lagi hanacaraka. Sebuah arsitektur adalah sebuah pernaungan dan perteduhan yang urip, itulah sosok yang akan muncul sebagai arsitektur yang tetap Jawa. Dia yang Jawa belum tentu Jawa, dan yang Jawa sudah kehilangan Jawanya, itulah ungkapan yang mengamanahkan bahwa wajah dan kelakuan yang Jawa tidak cukup. yang lebih penting adalah hati sanubari yang Jawa, bukannya penampilan yang Jawa. Boleh saja tampil tidak Jawa namun dengan hati nurani dan sanubari yang Jawa, dia akan tetap lebih Jawa daripada yang mengenakan dodot, surjan dan blangkon tapi nol besar nurani dan sanubari kejawaannya.


a n c r k à ini Jawa, dan begini pula tajug, juglo, limansap dan kapung
ha na ca ra ka à ini jw, dan tidak lagi tajug, juglo, limansap atau kapung, bukan?


8
Jadi, siapa yang menghuni nurani dan sanubari arsitek, itu pulalah yang akan membuat arsitek menghadirkan arsitektur yang Jawa (kalau nurani dan sanubarinya Jawa), yang Bali (kalau nurani dan sanubarinya Bali) atau milis-manis (kalau nurani dan sanubarinya oportunistik). dengan nurani dan sanubari ini, gempitanya dunia arsitektur tidak ditanggapi dengan ingin menjadi pesohor, tetapi dengan ingin menjadi arsitek yang 'hamemayu hayuning bawana'. Biarlah jagad yang memberi penghargaan dan penilaian, jangan diri arsitek yang memasang harga dan nilai.
Sosok ragawiah arsitektur Nusantara Bali juga bisa hadir dengan gemerlap dan perkasa, namun hanya kehadiran yang tak beda dengan benda-benda mati semata; kecuali bila di dalam arsitektur itu telah dihunikan ‘pengurip’ –penghidup. Sia-sia saja kalau kita berusaha untuk melihat wujud ragawiah sang pengurip. Hanya dengan mengagumi dan meleburkan diri kita ke dalam arsitektur nusantara Bali akan dapat berjumpa dengan sang pengurip. Nurani dan sanubari arsitek juga adalah sang pengurip. Terbenam dalam-dalam dalam karya!


9
Yang pasti, bohong besar kalau arsitek yang seperti itu akan mati karena tak mendapat proyek. berlaku sebagaimana garam yang menyedapkan masakan tanpa memunculkan diri sebagai butir-butir garam, tidak berarti bahwa tanpa garam masakan akan sedap, bukan? Jagad buana ini disedapkan oleh garam demi garam arsitek yang menjadikan berarsitektur sebagai dharma. Leluhur Bumi Pertiwi kita menyuarakan kata-kata nan bijaksana: jangan pentingkan aku-mu, tapi pentingkan karya-mu". Aku-mu adalah yang tak berharga dan pantas untuk disebut, aku-mu selipkan saja setersembunyi mungkin di dalam karya; dan dengan demikian kebesaran karyamu akan dipenuhi oleh kekaguman dan penghargaan, mendapatkan pula keabadiannya. Dan oleh karena itu Juglo di Jawa itu tak dikenal siapa arsiteknya; demikian pula dengan tatadesa Bugbug dan Tenganan juga tak diketahui siapa perencananya. Dan oleh karena itu, kalau sejarah Barat itu menempatkan siapa sebagai yang sentral, dalam sejarah Bumi Pertiwi ini, apa yang menjadi peristiwa adalah yang sentral.


10
Akhirnya, how low(cal) can you go? sederhana saja jawabnya yakni "how deep can you serve dharma?"


Keputih, 10 desember 2007

No comments: