Tidak ada yang menyangkal bahwa Mangunwijaya adalah sosok pertama yang menegaskan bahwa arsitektur 'barat' berbeda dari arsitektur Nusantara. Beliau lalu merumuskan Vastu/wastu sebagai pendamping arsitektur Barat. Di sini, Arsitektur barat beserta Vitruvius disisihkannya, diganti dengan Vastu/Wastu. Kita lalu diberi suguhan dua sumber kearsitekturan yang berbeda; kita lalu diyakinkan bahwa arsitektur barat bukan satu-satunya sumber kearsitekturan. Ya, Mangunwijaya tidak menolak arsitektur Barat melainkan menunjukkan bahwa arsitektur barat bukanlah satu-satunya 'kebenaran arsitektur'. Vastu/Wastu adalah juga sebuah 'kebenaran arsitektur'.
duapuluh lima tahun berlalu, satu generasi berlalu. Sementara Vastu/Wastu dari Mangunwijaya nyaris tidak mendapat tanggapan dari dunia arsitektur di Indonesia, sesosok generasi murid Mangunwijaya tampil ke gelanggang arsitektur di Indonesia dengan pemikiran baru. Erosentrisme menjadi lawan yang harus dikalahkan, tentu saja erosentrisme dalam arsitektur khususnya. siapakah yang harus menjadi lawan dan mengalahkan erosentrisme itu? Arsitektur Nusantara! Seandainya saja dasar-dasar tinjau dari Arsitektur Nusantara mas Galih ini tidak dieksklusifkan ke Islam (melainkan di'semesta'kan menjadi religi/ositas versi Mangunwijaya dalam 'Sastra dan Religiositas', dan sebenarnya saja dasar-dasar tinjau itu juga ada dalam agama-agama selain Islam) tentu akan menjadi semakin dahsyat keberadaan Arsitektur Nusantara ini. Kalau Mangunwijaya membuka mata kita akan kedahsyatan Vastu/Wastu (Arsitektur Nusantara) sebagai 'the other' terhadap arsitektur barat; Galih Widjil mendahsyatkan arsitektur Nusantara sebagai lawan dari arsitektur-barat/erosentrisme! Bila Mangunwijaya beralaskan Kebudayaan dan kesenian dalam membangun Vastu/Wastu (Arsitektur Nusantara) maka Galih Widjil beralaskan Islam.
duapuluh lima tahun berlalu, satu generasi berlalu. Sementara Vastu/Wastu dari Mangunwijaya nyaris tidak mendapat tanggapan dari dunia arsitektur di Indonesia, sesosok generasi murid Mangunwijaya tampil ke gelanggang arsitektur di Indonesia dengan pemikiran baru. Erosentrisme menjadi lawan yang harus dikalahkan, tentu saja erosentrisme dalam arsitektur khususnya. siapakah yang harus menjadi lawan dan mengalahkan erosentrisme itu? Arsitektur Nusantara! Seandainya saja dasar-dasar tinjau dari Arsitektur Nusantara mas Galih ini tidak dieksklusifkan ke Islam (melainkan di'semesta'kan menjadi religi/ositas versi Mangunwijaya dalam 'Sastra dan Religiositas', dan sebenarnya saja dasar-dasar tinjau itu juga ada dalam agama-agama selain Islam) tentu akan menjadi semakin dahsyat keberadaan Arsitektur Nusantara ini. Kalau Mangunwijaya membuka mata kita akan kedahsyatan Vastu/Wastu (Arsitektur Nusantara) sebagai 'the other' terhadap arsitektur barat; Galih Widjil mendahsyatkan arsitektur Nusantara sebagai lawan dari arsitektur-barat/erosentrisme! Bila Mangunwijaya beralaskan Kebudayaan dan kesenian dalam membangun Vastu/Wastu (Arsitektur Nusantara) maka Galih Widjil beralaskan Islam.

No comments:
Post a Comment